27 Feb 2015

Pengembang sistem operasi BlankOn beberapa waktu lalu mengadakan lomba pengembangan aplikasi menggunakan HTML5. Dalam dekat ini IBM akan mengadakan lomba pengembangan aplikasi, IBM Developer War Day dengan tema Membangun Kemandirian Nasional dengan OpenSource. Lomba yang dapat diikuti oleh tim atau individual. Untuk tim maksimal terdiri dari maksimal 5 orang.

Tema yang bisa diangkat adalah Bidang Maritim, Bidang Kesehatan/Layanan Publik atau Mikrofinansial. Persyaratan sistem operasi dalam lomba yang diperkenankan RHEL, SLES, Fedora, OpenSuse, Ubuntu, atau Debian. Diharapkan aplikasi yang dikembangkan dapat berjalan pada platform Power Systems. Peranti lunak yang digunakan tentunya aplikasi berlisensi bebas.

Bicara lomba tidak jauh dari hadiah yang menarik. Hadiah yang ditawarkan oleh IBM adalah Uang Tunai, Pelatihan Gratis, Mentoring, dan Bantuan Promosi. Tentu hadiah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Informasi lengkap terkait lomba akan disampaikan pada tanggal 19 Maret 2015. Jadi jangan lupa mencatat tanggal tersebut untuk memantau akun media sosial IBM.

on 27 Feb 2015 06:27 AM

26 Feb 2015

vagrant box di buaya

Mahyuddin Susanto

Pada saat ini buaya.klas.or.id telah menyediakan box untuk vagrant [0] dengan provider virtualbox. Hingga detik ini, beberapa distro yang didukung adalah Centos 5/6/7, Debian 7, OpenSUSE, Ubuntu, Lubuntu dan FreeBSD.

Untuk mengunduh box, dapat dilihat pada halaman berikut:
http://vagrant.klas.or.id/box/current/

Untuk kode sumber builder dapat ditemukan pada halaman github berikut:
https://github.com/udienz/packer

Contoh penggunaan;

mkdir debian-7.8.0-amd64
vagrant box add --provider virtualbox debian-7.8.0-amd64 http://vagrant.klas.or.id/box/current/virtualbox-debian-7.8.0-amd64.box
vagrant init debian-7.8.0-amd64
vagrant up

atau;

mkdir debian7-amd64
vagrant init buaya/debian7-amd64
vagrant up

untuk melihat shorturl vagrant buaya pada atlas dapat merujuk pada url berikut [2]

Tentang Vagrant

Vagrant adalah sebuah program yang memanfaatkan teknologi Mesin Virtual yang memungkinkan kita untuk membuat lingkungan development software secara portable, mudah di duplikasi, konsisten, sehingga proses pengembangan lebih fleksibel.

Jika menemukan bug, atau usulan improvisasi mohon melaporkan pada github.

Terimakasih


[0] https://www.vagrantup.com/
[1] https://www.virtualbox.org/
[2] https://atlas.hashicorp.com/boxes/search?provider=virtualbox&q=buaya

on 26 Feb 2015 09:15 AM

djp

Tahun 2013

Tahun 2013 lalu, saat masa pelaporan SPT saya diberitahu kalau fitur pelaporan SPT secara online sudah tersedia. Alamatnya djponline.pajak.go.id. Setelah mendengar presentasi tim dari kantor Pajak sekilas saya rasa agak ribet. Karena pembuatan dan aktivasi akunnya masih membutuhkan proses manual ke Kantor Pajak.

Jadi untuk bisa melaporkan secara online kita harus memiliki akun terlebih dahulu. Nah untuk bisa aktif, akun ini perlu verifikasi nomor e-FIN (Electronic Filing Identification Number). e-FIN ini dikeluarkan oleh kantor pajak. Nah disini perlu proses manual. Saya lupa detailnya. Saat itu dilakukan kolektif bersama rekan-rekan kerja saya. Jadi pokoknya tahu – tahu sudah dikirimin aja e-FIN nya.

Pengalaman mengisi SPT Online tahun 2013 itu juga tidak begitu bagus. Saya berhasil aktivasi, login, ganti password. Setelah logout saya gagal login lagi. Reset password, berhasil, login lagi, terus bingung cara isi form nya. Lalu saya logout lagi karena ada meeting. Kembali ke meja, login gagal, server down. Dst. Tampilan situsnya juga jelek menurut saya. Gak usah urusan desain deh,  layout (user interface) nya saja sudah membingungkan menurut saya.

Singkat cerita setelah beberapa kali percobaan, bersama teman-teman yang juga kebingungan, sebagian besar dari antara kami akhirnya berhasil menyelesaikan pelaporan SPT secara online ini. Tapi dalam hati kecil saya, saya curiga di tahun 2014 (yaitu tahun ini) nanti paling sistemnya berubah lagi, akunnya harus create lagi, dst. Disitu saya merasa sedihTM.

Lalu bagaimana kali ini di tahun 2014?

Tahun 2014

Kemarin bukti potong pajak sudah dibagikan. Saya segera mengunjungi lagi situs Pajak.go.id. Sempat bingung, pilih e-SPT atau e-Filing ya? Ya, saya kurang paham sih urusan penamaan ini. Tapi samar-samar saya ingat, di 2013 namanya e-Filing. Dan benar ternyata.

Kali ini tampilan desain webnya sudah bagus. Ok lah menurut saya. Sekilas langsung terlihat kalau webnya menggunakan framework CSS Bootstrap, lebih tepatnya theme Metronic (bahkan kelihatan screenshotnya). Bagus sih, berarti harusnya websitenya sudah responsive (layoutnya otomatis menyesuaikan untuk perangkat mobile; handphone, tablet).

Dan tibalah saat saya memasukkan username & password (usernamenya NPWP). Saya masih ingat password saya. Saya masukkan NPWP (lengkap dengan tanda titik dan garisnya), lalu password. Dan gagal. Beberapa kali saya coba gagal terus. Kenapa NPWP nya lengkap dengan tanda titik dan garis? Karena seingat saya di 2013 begitu. Dan saya cek di email saya dulu, begitu lah isi email dari sistem Pajak mengenai informasi login saya.

Nahh.., bener kan dugaan saya di 2013 dulu. Ini pasti ujung-ujungnya harus bikin akun ulang.

Reset Password

Saya coba reset password. Dhueeng..! Diminta isi NPWP, dan e-FIN. Lah e-FIN nya ada di selembar kertas tahun 2013 itu. Besoknya baru saya cek di kamar saya, ternya masih ada lembaran e-FIN ini.

Jadi tadi saya coba reset lagi, masukkan NPWP (lengkap dengan titik dan garis) dan e-FIN nya. Keluar error, NPWP nya tidak terdaftar. Loohh?? Hmmm, beneran deh ini harus registrasi ulang, bikin akun baru. Begitu pikiran jelek saya.

NPWP

Lalu saya coba lagi masukkan NPWP hanya angka saja, tanpa spasi, titik, dll, lalu e-FIN nya. Keluar pesan password baru sudah dikirimkan ke email saya. Hah??! Lohhh.., jadi dari tadi itu errornya karena saya masukkan NPWP pakai embel-embel titik dkk ternyata. Udah kadung Dirjen Pajak saya maki-maki dari tadi. Maaf ya, Jak.

Akhirnya berhasil login. Dan tampilannya bagus (lihat di atas). Lebih intuitif. Saya sih OK, kalau mas Anang juga OK.

Segera saya isi form nya satu per satu. Di bagian akhir, sebelum bisa kirim SPT nya akan muncul pop-up untuk kirim kode verifikasi. Ada pilihan email dan SMS. Tapi yang SMS gak bisa dipilih, masih pengembangan kali ya.

Kode verifikasi saya terima, saya masukkan ke form nya, lalu kirim SPT nya. Tidak lama kemudian saya menerima email  Bukti Penerimaan Elektronik.

Jadi, pengalaman saya melakukan pelaporan SPT Online tahun 2014 ini cukup memuaskan. Problem saya hanya karena dari awal memasukkan NPWP lengkap dengan titik dan garis itu. Selain itu semuanya mulus. Tampilan webnya juga sudah Ok.

Catatan:
1.    Untuk login, masukkan NPWP anda hanya angka
2.    Simpan kode e-FIN yang pernah anda dapatkan. Mungkin di masa depan ini masih dibutuhkan.
3.    Laporkan SPT anda.

on 26 Feb 2015 05:25 AM

Kalau dengar pembicaraan orang-orang di kantor, sepertinya banyak sekali yang kepingin “work from home”. Ceritanya kerja remote gitu. Enak, gak perlu habisin waktu macet di jalan. Bisa sambil ngurus anak. Bisa bebas pake baju, gak pake baju pun bisa.

Untuk urusan komunikasi gampang. Ada Lync (kalau yang pake Microsoft-based), bisa chat, video maupun audio call, bisa share screen bahkan remote desktop juga. Katanya lagi, toh dalam satu gedung pun kenyataannya seringkali komunikasinya email-email-an toh. Jadi sama aja.

Menurut saya sih, ada banyak hal yang akan lebih cepat dilakukan jika orang-orangnya bisa dikumpulkan dalam waktu yang singkat di lokasi yang sama. Yah ini selalu jadi perdebatan sih. Mungkin kapan-kapan saya bahas jadi tulisan sendiri.

Tapi, saya lebih melihat dari lingkungan sosial. Kalau kerja remote terus dari rumah, lalu dalam sebulan cuma 4 kali ke kantor, saya rasa tidak bagus untuk hubungan sosial dengan sesama rekan kerja, apalagi dengan kultur Indonesia yang “sangat sosial” ini ya.

Karena momen-momen kerja bareng di kantor, atau sekadar makan siang bareng, atau kabur sebentar beli snack sore itulah yang membangun keakraban. Dari situ kadang berkembang jadi piknik bareng di akhir pekan rame-rame. Keakrabannya akan terbentuk secara natural, tanpa perlu dibuat kegiatan tranining khusus dari tim HR. Ya, walaupun mungkin tetap ya, di belakang diam-diam saling menggosipi. Hehe.

Betul memang keakraban antar karyawan, dengan “engagement” karyawan ke perusahaan itu bisa berbalik kondisinya. Tetapi, keakraban antar karyawan sendiri saja sudah membuat suasana kerja menjadi lebih baik.

Yahoo dan (kalau tidak salah Hewlett-Packard) dulu termasuk yang jadi pionir untuk pola bekerja dari rumah ini. Tetapi dari yang saya baca, belakangan mereka malah mengurangi secara signifikan jumlah karyawannya yang bekerja dari rumah. Alasannya klasik, lebih mudah koordinasi dan komunikasi.

Memang tidak semua jenis bisnis, dan skala perusahaan cocok menerapkan sistem kerja dari rumah ini menurut saya. Apalagi kalau yang motivasi karyawannya bekerja dari rumah adalah: biar bisa sambil masak, nonton TV, main game, bikin kue. :D

on 26 Feb 2015 01:59 AM

25 Feb 2015

Access point configuration

Access point configuration

Saya hendak membuat sebuah jaringan nirkabel. Jaringan nirkabel itu terhubung ke sebuah komputer yang berfungsi sebagai router. Setiap akses dari perangkat-perangkat dalam jaringan tersebut dienkapsulasi dalam NAT dan dikirim ke Internet/jaringan lainnya.

Komputer yang saya gunakan adalah GNU/Linux Gentoo dengan spesifikasi sebagai berikut:

  • Kernel Linux 3.19-pf1
  • Systemd 219

Saya pun tertarik menggunakan nftables karena dia yang akan menggantikan iptables di masa mendatang. Perkakas nftables pertama kali ada di Linux 3.13. Jadi, ya, lumayan relatif baru.

Aktifkan IP Forwarding

Setiap kali mau memakai NAT, jangan lupa mengaktifkan IP Forwarding di kernel. Lihat dulu kalau dia aktif:

$ sudo sysctl net.ipv4.ip_forward
net.ipv4.ip_forward = 0

Kalau nilainya 0, berarti belum aktif. Aktifkan:

sudo sysctl -w net.ipv4.ip_forward=1

Supaya permanen, tambahkan ke konfigurasi. Ingat! Sistem ini menggunakan systemd. Jadi, berkasnya ada di

/etc/sysctl.d

echo "net.ipv4.ip_forward = 1" | sudo tee -a /etc/sysctl.d/99-sysctl.conf

Ini kalau tadi sebelumnya IPv4 belum menyala. Kalau sudah, lewati saja. Tapi, biasanya distro-distro bakunya mematikan fitur ini.

nftables

Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk memasang nftables:

  1. Memasang kernel yang sudah mendukung nftables.
  2. Memasang perkakas nftables.
  3. Memasang unit systemd.

Modul Kernel

Saya tidak tahu Anda menggunakan kernel versi apa. Tapi, seandainya kernel tersebut di atas 3.13, kemungkinan ada. Kalau saya kebetulan mengompilasi sendiri kernel saya. Jadinya, saya aktifkan nftables pada bagian:

-> Networking support
  -> Networking options
    -> Network packet filtering framework (Netfilter)
      -> Core Netfilter Configuration

Lalu saya centang saja semua yang berbau nf_tables di konfigurasi seperti terlihat pada gambar.

I just opt-in every "nf_tables" in Core Netfilter Configuration

I just opt-in every “nf_tables” in Core Netfilter Configuration

Setelah saya kompilasi dan pasang kernel saya. Lalu saya masuk ke sistem dengan menggunakan kernel tersebut. Selanjutnya saya memasang perkakas nftables untuk bisa memanipulasi tabel nftables.

Perkakas

Saya memasang nftables dengan cara berikut:

sudo emerge -av net-firewall/nftables

Atau gunakan pemaket dari distro kesayangan Anda masing-masing. Untuk Debian dan turunannya, ada bacaan menarik mengenai cara cepat membuat perkakas ini.

Jika sudah, ada beberapa contoh penggunaan nftables yang menarik, misalnya:

  • Melihat seluruh isi tabel:
    nft list ruleset
  • Menghapus seluruh tabel:
    nft flush ruleset
  • Menyimpan seluruh tabel ke berkas konfigurasi:
    nft list ruleset > /var/lib/nftables/rules-save
  • Memuat konfigurasi dari berkas konfigurasi:
    nft -f /var/lib/nftables/rules-save

Saya mengikuti tata letak berkas di Gentoo. Dia menaruh aturan iptables, nftables, ebtables, dan lain-lain di direktori

/var/lib
. Kalau Debian menaruhnya di
/etc
. Anda terserah mau taruh di mana, yang penting konsisten.

Inisialisasi Aturan nftables

Awal-awalnya nftables masih kosong. Saya menggunakan aturan yang telah disediakan gentoo untuk IPv4 NAT. Gentoo saat ini menaruh berbagai aturan siap pakai di

/etc/nftables
.

Mengapa saat ini? Karena biasanya aturan siap pakai ditaruh di

/usr/share
. Mungkin saja bilamana nftables sudah stabil, aturan-aturan ini dipindahkan ke sana. Ya, sudah, pakai saja:

sudo nft -f /etc/nftables/ipv4-nat

Supaya Anda tidak penasaran, isi berkas itu sebenarnya cuma aturan biasa:

#!/sbin/nft -f

table nat {
	chain prerouting	{ type nat hook prerouting priority -150; }
	chain postrouting	{ type nat hook postrouting priority -150; }
}

Mirip-miriplah dengan tutorial nftables NAT yang resmi.

Lalu tambahkan aturan yang mentranslasi semua paket jaringan dari

wlan0
ke
eth0
.

sudo nft add rule nat postrouting ip saddr 10.10.0.0/24 meta oif eth0 snat 192.168.0.5

Ganti

192.168.0.5
dengan IP kartu ethernet Anda. Lihat gambar awal mengenai skema jaringan yang hendak dibangun.

Padanan di iptables

Aturan ini padanannya di iptables seperti ini:

sudo iptables -t nat -A POSTROUTING -s 10.10.0.0/24 -o eth0 -j SNAT --to 192.168.0.5

Lalu mengapa tidak menggunakan iptables saja biar sederhana? Judul artikel ini belajar nftables. Lagipula, sebenarnya lebih sederhana nftables, hanya saja ia belum terintegrasi dengan distro-distro yang ada saat ini. Dia masih baru, bahkan kernel yang mendukung belum masuk.

Sebelum ini saya biasanya menggunakan perintah berikut untuk iptables:

sudo iptables -t nat -A POSTROUTING -o eth0 -j MASQUERADE

Nanti saya coba di Wheezy, deh. Kalau tidak malas, tapinya. Untuk saat ini jangan lupa untuk mematikan NAT di iptables supaya tidak kacau!

sudo rmmod iptable_nat

Menyimpan Aturan nftables

Kalau sudah selesai, seharusnya aturan nftables akan sebagai berikut:

$ sudo nft list ruleset
table ip nat {
	chain prerouting {
		 type nat hook prerouting priority -150;
	}

	chain postrouting {
		 type nat hook postrouting priority -150;
		 ip saddr 10.10.0.0/24 oif eth0 snat 192.168.0.5
	}
}

Nah, kalau di Gentoo, dia sudah menyediakan skrip initnya. Sayangnya cuma untuk OpenRC. Kita bisa memanfaatkan skrip itu untuk menyimpan aturan NAT:

sudo /etc/init.d/nftables save

Atau cara manualnya:

sudo mkdir -p /var/lib/nftables
sudo nft list ruleset | sudo tee /var/lib/nftables/rules-save

Selanjutnya membuat aturan systemd supaya dijalankan otomatis.

Aturan systemd untuk nftables

Belum ada aturan untuk nftables. Ada seseorang yang berbaik hati untuk membuat skrip untuk systemd. Tetapi, saya memilih untuk membuat sendiri.

Skrip orang itu membuat nftables sebagai layanan. Tetapi, saya pikir seharusnya perilaku nftables sama seperti skrip ALSA dan iptables. Ia hanya perlu dijalankan sekali saja. Itu sebabnya, sama seperti kedua subsistem, saya memecah nftables menjadi tiga berkas aturan.

Aturan

/usr/lib/systemd/system/nftables.service

[Unit]
Description=Store and restore nftables firewall rules
Documentation=man:nftables(8)

[Install]
Also=nftables-store.service
Also=nftables-restore.service

Aturan

/usr/lib/systemd/system/nftables-restore.service

[Unit]
Description=Restore nftables firewall rules
# if both are queued for some reason, don't store before restoring :)
Before=nftables-store.service
# sounds reasonable to have firewall up before any of the services go up
Before=network.target
Conflicts=shutdown.target

[Service]
Type=oneshot
ExecStart=/sbin/nft -f /var/lib/nftables/rules-save

[Install]
WantedBy=basic.target

Aturan

/usr/lib/systemd/system/nftables-store.servic
e

[Unit]
Description=Store nftables firewall rules
Before=shutdown.target
DefaultDependencies=No

[Service]
Type=oneshot
ExecStart=/bin/sh -c "/sbin/nft list ruleset > /var/lib/nftables/rules-save"

[Install]
WantedBy=shutdown.target

Selanjutnya, pasang ketiga layanan tersebut:

sudo systemctl enable nftables

Selesai untuk nftables, selanjutnya mengonfigurasi antarmuka jaringan.

Mengonfigurasi Antarmuka Jaringan

Sudah menjadi aturan umum kalau firewall berjalan sebelum antarmuka jaringan diaktifkan. Dengan memulai firewall terlebih dahulu, tidak ada jeda yang bisa dipakai untuk masuk. Tidak ada waktu antara menjalankan antarmuka jaringan dengan menyalakan firewall. Itu sebabnya, nftables dipasang pertama kali sebelum antarmuka jaringan.

Kalau Anda pengguna destop, kemungkinan sudah ada NetworkManager. Untuk konfigurasi minimal, NetworkManager biasanya tidak dipasang. Antarmuka jaringan harus dipasang dengan cara lain.

Saya gagal menggunakan metode systemd-networkd. Kalau saya menggunakan infrastruktur itu, firewall (nftables/iptables) tidak ada yang berjalan! Mungkin saya ada yang kurang. Entahlah, yang pasti saya mengonfigurasi statik dengan cara lain saja.

Antarmuka
eth0

Gentoo menggunakan pendekatan yang sama dengan Arch Linux. Mereka menggunakan systemd untuk menjalankan skrip Gentoo. Dengan demikian, konfigurasi Gentoo yang lama bisa dibaca. Ini konfigurasi lama saya di 

/etc/conf.d/net

dns_servers=( "8.8.8.8" )

config_eth0="192.168.0.5 netmask 255.255.255.0"
routes_eth0="default via 192.168.0.1"

Cara mengaktifkan layanan adalah dengan membuat tautan simbolik dari

net@.service
ke
net@eth0.service
.

sudo ln -s /usr/lib/systemd/system/net@{,eth0}.service

Kalau Anda tidak percaya diri dengan menggunakan enumerasi BASH, bentuk lain dari perintah itu adalah

sudo ln -s /usr/lib/systemd/system/net@.service /usr/lib/systemd/system/net@eth0.service

Setelah itu, pasang layanan ini ke systemd agar dijalankan pada waktu komputer baru menyala.

sudo systemctl enable net@eth0

Kalau Debian, seperti biasa ada di

/etc/network/interfaces
. Jadi, mungkin systemd tidak terlalu dibutuhkan.

Antarmuka
wlan0

Saya menggunakan Linksys WUSB54GC. Kemampuan yang dimiliki:

Supported interface modes:
		 * IBSS
		 * managed
		 * AP
		 * AP/VLAN
		 * WDS
		 * monitor
		 * mesh point

Dia bisa menjadi Access Point (AP)!

Implementasi yang kita pilih merupakan implementasi statik. Kita bisa dengan aman berasumsi bahwa IP yang dipakai tidak akan berubah.

Saya tadinya ingin membuat seperti antarmuka Ethernet. Tapi, konfigurasi gagal karena RFKill selalu memblokir

wlan0
dengan soft block. Saya pun memutuskan untuk membuat sebuah layanan kecil untuk menjalankan
wlan0
di
/usr/lib/systemd/system/ap-static.service

[Unit]
Description=Static WLAN0 as an Access Point
Documentation=man:rfkill(8) man:ip(8)
After=network.target
After=time-sync.target

[Service]
Type=oneshot
RemainAfterExit=yes 
ExecStart=/usr/sbin/rfkill unblock all
ExecStart=/bin/ip addr add 10.10.0.1/24 dev wlan0
ExecStart=/bin/ip link set wlan0 up

[Install]
WantedBy=multi-user.target

Seperti biasa, pasang layanan ini:

sudo systemctl enable ap-static

Untuk antarmuka nirkabel sudah selesai. Saatnya memasang layanan yang akan mengonfigurasi klien WIFI.

Layanan Konfigurator WIFI

Ada dua layanan utama yang dipakai untuk tutorial kali ini. Keduanya masing-masing bisa diganti dengan yang lain. Namun, saat ini saya menggunakan dua layanan ini karena keduanya dapat dikembangkan untuk kebutuhan kompleks.

hostapd
Hostapd adalah aplikasi penyedia Access Point. Dia menyediakan autentikator, mengatur antarmuka WIFI, dan sejenisnya. Selain memiliki autentikator internal, hostapd dapat terhubung ke Radius dan mendukung ACS.
DHCPd
DHCPd adalah penyedia layanan DHCP. Layanan ini yang mengatur kepemilikan IP dan sejenisnya kepada klien. Sebenarnya masih ada udhcpd yang lebih sederhana. Yah, namanya juga belajar.

Mari konfigurasi keduanya.

Layanan
hostapd

Setiap distro umum memiliki paket

hostapd
. Saya sendiri di Gentoo mengunakan
hostapd
versi:

$ sudo hostapd -v
hostapd v2.3
User space daemon for IEEE 802.11 AP management,
IEEE 802.1X/WPA/WPA2/EAP/RADIUS Authenticator
Copyright (c) 2002-2014, Jouni Malinen <j@w1.fi> and contributors

Pertama-tama, konfigurasikan AP yang hendak kita buat. Berikut contohnya pada

/etc/hostapd/hostapd.conf

# WiFi Hotspot
interface=wlan0
driver=nl80211
# Access Point
ssid=AP Lo Nyambung2
hw_mode=g
ieee80211d=1
country_code=ID  ### 802.11d/h harus ada kode negara
# WiFi Channel:
ieee80211h=1  
channel=3     ### Channel 3
wmm_enabled=1 ### QoS
macaddr_acl=0
auth_algs=1
ignore_broadcast_ssid=0
wpa=2
wpa_passphrase=s4nD1Al4yFtW
wpa_key_mgmt=WPA-PSK
wpa_pairwise=TKIP
rsn_pairwise=CCMP

Saya menyalin skrip layanan systemd hostapd yang disediakan oleh Gentoo menjadi

/usr/lib/systemd/system/hostapd-wlan0.service
. Alasan saya supaya kalau ada pembaharuan sistem, skrip ini tidak berubah. Lagipula, saya mengubah agar layanan berjalan setelah
ap-static.service
sudah berjalan. Isinya:

[Unit]
Description=Hostapd IEEE 802.11 AP, IEEE 802.1X/WPA/WPA2/EAP/RADIUS Authenticator
After=network.target
After=ap-static.service

[Service]
ExecStart=/usr/sbin/hostapd /etc/hostapd/hostapd.conf

[Install]
WantedBy=multi-user.target

Setelah itu, pasang layanan ini.

sudo systemctl enable hostapd-wlan0

Selesai.

Layanan
dhcpd

Seperti saya bilang, sebenarnya DHCPd agak mubazir. Tapi, berhubung sistem ringan, saya pasang saja. Oh, iya, kalau di Debian, nama paketnya

isc-dhcp-server
.

Gentoo:

sudo emerge -av net-misc/dhcp

Debian dan turunannya:

sudo apt-get install isc-dhcp-server

Setelah terpasang, buat berkas konfigurasi

/etc/dhcp/dhcpd.conf

ddns-update-style none;
log-facility local7;
subnet 10.10.0.0 netmask 255.255.255.0 {
    range 10.10.0.2 10.10.0.32;
    option domain-name-servers 8.8.8.8;
    option routers 10.10.0.1;
}

Jangkauan IP tidak saya buat jauh karena pun jumlah maksimal klien yang terhubung ke AP tidak begitu banyak. Lain cerita kalau misalnya DHCPd kita pakai juga untuk yang lain.

Seperti biasa, saya menyalin berkas systemd DHCPd dan menamainya menjadi

/usr/lib/systemd/system/dhcpd4-wlan0.service

[Unit]
Description=DHCPv4 Server Daemon
Documentation=man:dhcpd(8) man:dhcpd.conf(5)
After=ap-static.service

[Service]
ExecStart=/usr/sbin/dhcpd -f -cf /etc/dhcp/dhcpd.conf -user dhcp -group dhcp --no-pid

[Install]
WantedBy=multi-user.target

Terakhir, pasang layanan DHCPd:

sudo systemctl enable dhcpd4-wlan0

Selesai.

Terakhir

Matikan dan kemudian hidupkan kembali komputer yang dipakai sebagai AP. Kalau benar, maka otomatis layanan ini akan berjalan.

Example on working AP.

Example on working AP from my phone.

Tamat.

on 25 Feb 2015 08:09 AM

24 Feb 2015

Setelah belakangan sering membaca tulisan di Medium.com, akhirnya kepengen juga blog ini menggunakan jenis-jenis font yang mirip. Jadilah saya eksperimen mengganti font blog ini dengan Google Font. Namanya ‘Halant’. Sepertinya  lebih nyaman dibaca. Sebenarnya hampir mirip sih dengan ‘Georgia’, tapi untuk header (H1, H2, dll), jenis huruf ‘Georgia’ tebalnya agak kurang sedap dipandang.

Oh iya, saya baca dimana gitu, web-design itu 90% urusan tipografi, alias urusan huruf. Masuk akal sih. Cuma dengan mengganti jenis huruf aja (terutama website yang padat tulisan), kesan yang terlihat bisa jauh berbeda. Apalagi dengan sedikit perubahan warna huruf, jarak antar paragraf, dan ukuran besarnya huruf, (seperti yang barusan saya lakukan) kenyamanan membacanya bisa jadi jauh berbeda.

on 24 Feb 2015 07:11 PM

FTI Festival 2015

Arif Syamsudin

http://fti Festival 2015

Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI. Acara ini terbuka untuk umum, yang akan diisi dengan seminar, open house, banyak perlombaan dan pelatihan.

Bagi yang tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan ini, silahkan kunjungi situs http://fti2.yarsi.ac.id atau cukup dengan meng-klik gambar di atas.

AYO, RAMAIKAN FTI FESTIVAL 2015!!!
on 24 Feb 2015 03:38 PM

19 Feb 2015

恭禧發財

on 19 Feb 2015 09:05 AM

17 Feb 2015

Pagi ini saya bahagia. Raspberry Pi 2 (Raspi2) yang dibeli telah tiba! Kami sekantor memesan beramai-ramai. Tapi, untungnya, saya yang duluan membuka Raspberry Pi 2.

“Ih, Anda lebay sekali membuat tulisan tentang Raspberry Pi 2!”

Sebelum kalimat itu terlontar, saya cuma mau bilang bahwa Raspi2 berbeda dengan model pendahulunya.

All components of Raspberry Pi 2

All components of Raspberry Pi 2

Berbeda dengan sebelumnya, Raspi2 datang dengan buku manual. Buku manual itu sekedar penjelasan singkat. Namun, buku ini tebal karena diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

This time Raspberry Pi 2 really is on a card form factor

This time Raspberry Pi 2 really is on a card form factor! A Universitas Indonesia student card as a comparison.

Kali ini Raspi2 benar-benar berukuran kartu. Coba lihat KIM UI dibandingkan dengan Raspi2. Ya, memang saya bukan fotografer profesional, tapi setidaknya terlihatlah kalau itu sama.

Untuk spesifikasi teknis, menurut bungkus Raspi:

  • Prosesor Quad Core Broadcom BCM2836 dengan memori 1GB.
  • GPIO dengan jumlah pin 40.
  • Kali ini menggunakan MicroSD, bukan lagi SDCard!
  • Keluaran yang disediakan ada 4 USB, 1 HDMI,  dan 1 lubang untuk RCA. Ada juga ekstensi untuk modul kamera dan DSI.
  • Seperti biasa, masukan daya bisa dengan pengisi daya telepon genggam (MicroUSB).

Nah, perhatikan kata satu lubang untuk RCA! Awalnya saya bingung. Apakah artinya Raspi2 tidak lagi bisa dicolokkan ke dalam TV?

Salah satu cita-cita saya sebenarnya ingin menjadikan Raspberry Pi sebagai komputer yang bisa digunakan di pedalaman. Dia tidak membutuhkan banyak catu daya sehingga bisa menggunakan energi dari panel surya misalnya. Apalagi, Raspberry Pi cukup handal untuk bisa digunakan dalam kondisi yang agak beda.

Ternyata, dari sumber yang saya temui, Raspberry Pi menggunakan sebuah kabel 3,5 inci ke RCA. Artinya, dia menggunakan kabel seperti ini:

3.5" to 3-ways RCA

Image taken from the Raspberry Forum http://www.raspberrypi.org/forums/viewtopic.php?f=91&t=83446

Kalau mau bikin sendiri, ini gambarannya:

Image taken from the Raspberry Pi Forum.

Seperti yang dilihat, ada banyak jenis 3,5″ RCA yang beredar di pasaran. Menurut forum itu, kabel yang benar adalah kabel untuk Zune. Kabel untuk iPod Video pun dapat dipakai, walau pun kiri dan kanan tertukar. Tinggal mengganti kabel merah dan putih, sih.

Aduh, ini kabel cari di mana, ya?

Kali ini saya belum bisa uji coba menyalakan Raspi2. Yang saya punya hanya SDCard. Saya harus mengambil dari rumah MicroSD saya. Ya, bisa, sih, diambil dari telepon genggam. Cuma, saya takut nanti saya dibilang anti sosial karena sulit dihubungi.

Saya juga agak malas. Raspberry Pi 2 sekarang sudah mendukung Windows 10. Microsoft menyediakannya gratis untuk diunduh. Nampaknya mereka memang mau besar-besaran ke komputasi awan. Windows 10 disediakan oleh Microsoft sebagai program mereka dalam Internet of Things.

Thesis saya dulu tentang konsep IoT. Tapi, saya sekarang lebih barokah belajar DoTA 2. Hadiahnya saja sudah jutaan dollar… :-P

Demikian laporan pandangan mata sekilas mengenai hasil pembongkaran Raspberry Pi 2 yang baru datang.

Bacaan lebih lanjut:

 

on 17 Feb 2015 02:43 AM

16 Feb 2015

sumber gambar: dunialari.com

5k, 10k, 17k, 22k, beberapa jarak yang sering jadi pilihan dalam acara lomba lari. Saya sendiri dulu cukup rutin lari di treadmills karena alasan yang cukup sederhana. Tapi untuk ikutan lomba lari yang sedang marak-maraknya kala itu saya masih enggan. Kayanya males aja gitu bangun subuh-subuh, pergi ke Sudirman cuman buat lari-lari. Ongkos pulang pergi taksinya aja udah berapa. Daftarnya bayar lagi, hih..!. Yeah.., I’m a cheap bastard. Haha.

*eh iya, buat yang awam ‘k’ itu maksudnya kilometer.

3K

Tapi akhirnya di Juni 2013 saya ikut lari 3K dalam acara Aquarius Sebelasthlon. Lari lucu-lucan kalau kata teman-teman saya yang sudah ikut lari 5k, 10k, dll. Kemudian di 2014, bulan Agustus akhirnya saya ikut Silverun, penyelenggaranya organisasi pengacara-pengacara pasar saham gitu deh. Entahlah apa namanya. Keduanya tentu saja gratis. Hehe.

11K

Untuk yang Silverun ini cukup jauh jaraknya, 10k. Sewaktu lari saya ikut tracking juga dengan aplikasi Endomondo di Android saya, jarak aslinya dari start sampai finish malah sebenarnya 11k lebih. Ternyata tidak seperti perkiraan saya, setelah selesai tidak capek-capek amat ya 11k itu, hehe. Entah karena saya gak ngoyo kali ya. Waktunya? 1 jam 9 menit 4 detik (kalo menurut Endomondo). Ya jelas saya bukan juaranya. Walaupun para pelari dari Kenya itu gak ikut pun, saya pasti gak bakal juara deh.

17K

Lalu, karena penasaran, dan juga karena (lagi-lagi), gratis, hehe, saya ikut Independence Run di bulan yang sama, tahun 2014. Saya pilih yang kategori 17k, karena cukup pede dengan hasil yang 11k kemarin. Saya baru tahu, ternyata lari di jalan itu tidak separah yang saya bayangkan.

Tapi, kali ini saya ceroboh. Orang-orang sering bilang, H-1 sebelum lari harus carbo loading. Biar energinya banyak. Berhubung 17k itu jarak yang jauh bagi saya, ya saya coba ikuti. Jadi jam 10 malam H-1, saya merasa saya perlu carbo-loading. Jadilah saya ke warung makan Padang terdekat. Dengan 1 rendang, 1 ayam goreng dada yang ukurannya jumbo, ketimun potong, daun singkong, gulai nangka, plus nasi porsi kuli, semuanya saya habiskan dalam tempo sekejap. Alhasil, kekenyangan membuat saya tidak bisa tidur. Berbaring saja sulit. -__-

Jadilah jam 2 lewat saya baru bisa tidur. Sementara jam 5 saya sudah harus berangkat, karena harus sudah berada di lokasi start pukul 5.30, sementara perjalanan ke depan Istana Merdeka diperkirakan butuh waktu 30 menit. Ini artinya saya paling tidak harus bangun pukul 4.45 pagi (gak pakai mandi lagi). Jadilah waktu tidur saya maksimum cuma 2 jam 45 menit.

Saya tiba di lokasi start agak telat, pukul 5.30 lewat sedikit. Sudah ribuan orang tumpah ruah. Karena banyak jalur kendaraan yang diubah, pak sopir BlueBird nya juga kagok. Saya dan teman saya memutuskan turun saja dekat Monas, dan dilanjutkan berjalan kaki. Dan ternyata, lokasi start nya masih jauh dari situ.

The Toilet

Yang apesnya, turun dari taksi, saya kebelet BAB. Berharap di dekat lokasi start ada toilet umum saya percepat langkah saya. Bener memang, ada toilet umum dekat lokasi start. 2 mobil jumlahnya. (Itu loh mobil yang khusus buat toilet itu, mobile-toilet kali ya namanya?). 2 mobil, dengan masing-masing antrian yang panjangnya sudah ratusan meter membuat saya makin gelisah. Sementara sebentar lagi Pak SBY sudah mau membuka start lomba lari.

Ok, tahan sajalah dalam hati saya. Nanti di tengah jalan panitia pasti sediakan juga toilet umum. Tiba tepat di garis start, sekarang saya jadi kebelet pipis. Double attack. Arrgghh.. Lalu Pak SBY mengangkat bendera tanda start dimulai. Demm..!

Saya berlari agak kencang, bukan karena berharap menang, tetapi berharap segera bertemu toilet umum. Di depan Sarinah saya sudah sempat kepikiran, mau mampir ke McDonald sekadar numpang ke toilet. Tapi.., ahh nanti juga ada toilet umum.

Melewati Sarinah, saya mulai cegukan. Berasa angin dari lambung mau keluar dari mulut. Lalu kuah rendang semalam seperti merangkak naik lagi ke tenggorokan. Mual. Mau muntah. Plus kebelet pipis dan BAB. Sempurna saudara-saudara..!

Strategi saya kalau lari adalah tetap lari sampai minimal 2/3 dari jarak tempuh, setelah itu baru boleh jalan sebentar, lalu lari lagi. Kali ini, boro-boro mau tetap berlari. Berjalan saja saya sudah senewen rasanya.

Panitia PHP

Di sekitar perempatan jalan layang depan Sampoerna Strategic Building, saya mendekati panitia lari (eh marshall ya istilahnya?). “Mbak, ini toilet umum gitu di sebelah mana ya? Dari Monas sampai sini saya gak liat. Kebelet nih.”, ujar saya mengiba. “Oooh.., terus aja lurus, Mas”, ujar si mbak panitia meyakinkan.

Dengan perasaan mual mau muntah, kuah rendang di tenggorokan, dan kebelet BAB, saya tetap berlari sampai ke sebrang Ratu Plaza. Saya hampiri lagi panitia. “Mas, ini ada gak sih toilet umum gitu yang di pinggir jalan. Kaya di start tadi itu loh?”. “Hmm.., kurang tahu ya, Mas. Mungkin coba deket puter balik nanti di Sisingamangaraja. Kayaknya ada deh di situ.”, ujar si mas dengan raut wajah yang tidak meyakinkan.

Jadilah saya tetap paksakan, lari, jalan, lari, hingga melewati bundaran Senayan, lurus terus ke Sisingamangaraja. Disini tempat putar balik jalur lari 17k nya. Di puteran itu saya tanya lagi panitia “Mbak, sebenarnya ada gak sih toilet umum gitu di pinggir jalan ini. Saya dari tadi kebelet. Katanya lurus aja. Sampai sini gak lihat juga.”. “Kayaknya gak ada deh mas setahu saya. Nanti mampir aja mas ke FX.”, ujar si mbak polos sambil membagikan tali berwarna hijau, penanda kita sudah beneran puter balik. Gak curang motong di tengah jalan.

Ahh.. PHP nih panitia.

Tanggung

Sampai di situ kebelet pipis saya sudah hilang sih. Tapi kebelet BAB, mual dan kuah rendang nya masih berasa. Ya sudah saya teruskan saja lari-jalan saya. Di dekat bundaran Senayan, saya berpikir untuk menyerah saja. “Ahh.., sudahlah. Saya ke Sevel Senayan itu saja. Kan ada toiletnya di atas. Abis itu pulang aja naik taksi.”. Tapi sebagian diri saya masih kepingin terus. Rencananya nanti di FX saja mampir ke toiletnya.

Lewat di depan FX saya tiba-tiba teringat. Dulu sewaktu car-free day. Saya ingat di depan Menara BCA, sering ada acara senam aerobik, nah di sebelahnya seingat saya ada mobil toilet umum. Ah ya sudah, di situ saja pikir saya. Lewatlah FX.

Lagi-lagi, saya harus menahan perut saya. Di depan Menara BCA hanya ada panggung tempat instruktur aerobik. Tidak ada penampakan mobil toilet umum. Saya sudah mau berhenti saja. Tapi berhenti kan enggak bikin saya bisa BAB ataupun muntah dengan lancar. Dipikir-pikir, mending saya teruskan sampai garis finish. Pasti ada toilet. Toh Monas sudah tidak jauh lagi.

Finish !

Melihat gerbang finish, saya menjadi semangat lagi. Bukan karena merasa selesai. Tapi yang ada di otak saya “Yeah.., akhirnya.., toileeeettt…!!”. Sekilas saya melihat catatan waktu di gerbang, 1 jam 46 menit. Sambil berlari, saya ambil medali 17k nya, sebotol air mineral, dan terus tetap berlari mencari mobil toilet umum. Nah itu dia..!

Ya, tetap saja antri toiletnya. Tapi antriannya cuma sekitar 8 orang, yang entah mengapa tiap orang rata-rata menghabiskan waktu hampir setengah jam rasanya. Sampai di sini saya rasa mual saya malah sudah hilang. Kebelet pipis sudah hilang dari tadi juga. Kebelet BAB nya masih. Mungkin karena saya menahan BAB sebegitu lama, akhirnya perut saya pun masih bisa sabar mengantri di belakang 8 orang ini.

Tapi si kuah rendang masih konsisten. Kelar urusan BAB, rasa kuah rendang semalam tetap lengket di tenggorokan, walaupun saya sudah minum air mineral barusan (sepanjang lari saya tidak minum sama sekali). Kuah rendanglah juara 17k saya ini. Hidup rendang..!

 

on 16 Feb 2015 01:49 AM

14 Feb 2015

Gambar 1. Logo Gnome
Memilih lingkungan destop (desktop environment - DE) pada sistem operasi GNU/Linux merupakan salah satu dari sekian banyak keindahan daripada-nya. Selain tentunya kebebasan kita memilih distribusi GNU/Linux mana yang akan kita gunakan, itulah. Sesuatu yang tidak akan kita temukan pada sistem operasi lain, mungkin, karena nyatanya jumlah distribusi GNU/Linux sampai saat ini dipastikan akan terus bertambah seiring dengan banyaknya keinginan pengguna terutama pengguna yang menginginkan kemudahan dalam penggunaan sehari-hari.

Ya, sehari-hari. GNU/Linux tidak lagi hanya mendominasi mesin-mesin peladen (server) yang hanya dapat digunakan oleh para administrator sistem, atau pun pengembang-pengembang perangkat lunak. Saat ini penggunakan GNU/Linux sudah masuk ke dalam penggunaan di atas meja kerja, destop (desktop). Digunakan untuk melakukan kegiatan komputasi atau perkantoran setiap hari. Menulis surat, mencetak, mengirim surel, dan lain sebagainya. Memang penggunaan GNU/Linux sebagai sistem operasi sehari-hari belum se-mendominasi seperti sistem operasi yang biasa kita ketahui, MS Windows. Tapi perlahan, dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan sistem operasi yang aman, dapat diandalkan, bukan tidak mungkin GNU/Linux dapat lebih sering kita temu dalam memberikan solusi untuk pekerjaan sehari-hari.

Saat ini saya putuskan untuk lingkungan destop Gnome. AFAIK, berdasarkan pengetahuan sederhana saya, Gnome merupakan lingkungan destop yang sudah memiliki banyak varian. Ada Unity, yang dikembangkan oleh Canonical untuk Ubuntu. Yang ter-gres, ada Manokwari yang dikembangkan oleh para pengembang BlankOn. Saya suka kesederhaannya, tapi sangat kuat -- apa ya padanan kata powerfull?--. Tidak terlalu membebani sistem dan dapat memenuhi keinginan saya, saat ini, untuk DE yang cukup bergaya :D.

Lho ini koq jadi malah ngelantur. Yang saya ingin dokumentasikan di sini adalah, permasalahan saya ketika menggunakan Gnome 3, setelah melakukan pembaruan pasca pemasangan, saya mendapatkan indikator baterai pada laptop yang dipasangkan, tidak muncul. Padahal, pada saat pemasangan, sebelum dilakukan pembaruan, indikatornya muncul.

Nah, solusinya adalah, dengan memasang PPA Gnome 3 Staging yang ada pada launchpad. Itu yang saya dapatkan dari salah satu situs diskusi tentang Ubuntu. Masukkan repo PPA pada sistem yang Anda gunakan, di dalam program terminal, dengan menggunakan perintah:
$ sudo add-apt-repository ppa:gnome3-team/gnome3-staging
Ikuti perintah yang muncul pada terminal. Setelah proses penambahan PPA selesai, silahkan segarkan cache sistem Anda dengan perintah
$ sudo apt-get update
Lalu lakukan pembaruan dengan menggunakan perintah:
$ sudo apt-get upgrade && sudo apt-get dist-upgrade
Setelah semua proses selesai dilalui, Anda bisa menikmati kembalinya indikator baterai pada laptop Anda ketika menggunakan Gnome 3 dan versi Gnome yang digunakan pun meningkat, menjadi Gnome 3.12.2.

Ah...semua happy :).

Bahan bacaan:
  1. http://askubuntu.com/questions/450347/no-battery-icon-in-ubuntu-gnome-14-04
  2. https://launchpad.net/~gnome3-team/+archive/ubuntu/gnome3-staging
  3. http://www.gnome.org/
  4. http://www.blankonlinux.or.id/ 
on 14 Feb 2015 01:44 PM

13 Feb 2015

Akhir bulan lalu saya diberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang Pendekatan Forensik Digital pada Pembelajaran GNU/Linux di STMIK El Rahma. Dari awal saya belajar GNU/Linux tanpa disadari menggunakan kaidah-kaidah forensik digital. Pada prinsipnya sistem operasi GNU/Linux telah disediakan alat-alat bantu yang benar-benar mendukung dalam pembelajaran forensik digital.

Sehubungan benda digital sangat rentan terhadap perubahan maka diperlukan penanganan khusus supaya tidak berubah saat terhubung dengan komputer. Sering saya jumpai saat thumb drive menancap pada sebuah komputer tanpa ada sentuhan manusia atau aktivitas penyalinan data, tiba-tiba telah terdapat virus atau data lainnya. Pengamatan saya selama menggunakan GNU/Linux tidak pernah ada kasus thumb drive tertulis secara otomatis.

Dari sisi sistem operasi saya melihat ini sudah mendasari lingkungan forensik digital. Tutorial yang biasa saya baca saat akan melakukan konfigurasi jarang sekali langsung melakukan menyunting berkas konfirgurasi. Biasanya yang dilakukan adalah dengan cara menyalin berkas asli. Misal diberi nama .orig, .old, atau dibubuhkan waktu, misal 20150207 setiap dibelakang berkas.

Alat bantu yang biasa saya gunakan dalam uji forensik sebagai berikut:
  • cat untuk sekedar melihat isi suatu berkas tanpa melakukan penyisipan 1 bit.
  • file untuk melihat file signature dari suatu berkas, memastikan apakah berkas tersebut sesuai dengan ekstensinya. Hal ini juga bisa dilihat dari http://www.garykessler.net/library/file_sigs.html.
  • sha1sum digunakan untuk melihat nilai hash suatu berkas, biasanya saat akan mengunduh, peladen menyedia nilai hash ketika sudah selesai maka nilai hash tersebut bisa dicocokan dengan berkas yang setelah kita unduh dan yang tersedia di peladen.
  • dd artinya macam-macam bahkan ada yang diplesetkan, alat bantu ini biasa saya gunakan untuk melakukan imaging. Pengguna GNU/Linux sudah sangat terbiasa dengan perintah ini.
4 alat bantu ini benar-benar membantu saya dan sistem operasinya juga sudah siap/mendukung forensik digital. Kurang lebih materi ini yang saya sampaikan di STMIK El Rahma, terima kasih atas kesempatanya dan Telo Bakarnya enak :)






Sumber foto: Eko, https://www.facebook.com/eyeyunianto

on 13 Feb 2015 12:23 AM

11 Feb 2015

2015-02-01-use-libav
  Title                     ffmpeg/libav conflict management: USE=libav
  Author                    Michał Górny 
  Posted                    2015-02-01
  Revision                  1

The support for automatic choice between ffmpeg and libav is going to be
deprecated in favor of explicit choice via USE flags. This change aims
to solve multiple repeating issues, including Portage undesirably
wanting to replace one package with the other, lack of proper reverse
dependency on ffmpeg/libav upgrades and some of the hard-to-understand
upgrade failures involving blockers. It also may be used to make ffmpeg
and libav co-installable in the future.

The current USE=ffmpeg will maintain its role of enabling optional
support for ffmpeg or a compatible implementation (libav) in a package.
However, whenever appropriate additional USE=libav will be introduced to
control the preference of one implementation over the other.

Users who currently use libav (the Gentoo default) do not have to
perform any action since USE=libav is enabled by default. It should be
noted that the users still need to enable USE=ffmpeg on packages with
optional libav support as well. Users who want to use ffmpeg instead
need to specify USE=-libav in make.conf explicitly.

Please also note that some packages support only one of the two
implementations. An attempt to install one of those packages may result
in blockers requiring the user changes the global USE=libav state.
The most notable example of such package is media-video/mplayer.
media-video/mpv may be used as a replacement for users who prefer libav.

Please do not alter the state of 'libav' flag on a per-package basis
(e.g. via package.use). The flag needs to be set globally to have
consistent value throughout all packages. Otherwise, blockers will
prevent upgrades.

– taken from GENTOO ESELECT NEWS.

on 11 Feb 2015 10:21 AM
KPLI Jogja cukup aktif mengadakan acara. Kali ini bareng Biznet Networks, KPLI Jogja mengadakan diskusi bertemakan Opensource Dalam Dunia Bisnis. Sebelumnya KPLI Jogja dan Biznet Network mengadakan diskusi tentang Single Board Computer.

Diskusi ini rencananya akan diselenggarakan pada 14 Februari 2015 pukul 14.00 di Kantor Biznet Network Jl. Laksda Adi Sucipto Ruko Saphir No.1. Demangan Baru. Bagi yang bingung kantor Biznet Network Yogayakarta dapat menggunakan koordinat 7°46'59"S 110°23'23"E. Pendaftaran melalui https://www.eventbrite.com/e/kpli-jogja-sharing-bareng-biznet-tickets-15706075294. Tempat terbatas, buruan mendaftar diskusi ini.
on 11 Feb 2015 08:23 AM

10 Feb 2015

Ingin punya laptop? Nah... ini jawabannya. Anda bisa mengikuti lomba membuat aplikasi HTML5. Hadiah yang ditawarkan dalam lomba ini adalah sebuah laptop. Lomba masih dibuka sampai tanggal 12 Februari 2015. Ada pun persyaratannya sebagai berikut:
1. Menggunakan BlankOn dalam proses pembuatan aplikasi berbasis HTML5
2. Memiliki akun Github untuk mengunggah hasil karya Anda
3. Aplikasi yang dibuat memiliki lisensi bebas, referensi di http://opensource.org/licenses

Pendaftaran lomba dapat mengisi formulir ini. Jika ada pertanyaan terkait pelaksanaan lomba dapat menghubungi syaimif@di.blankon.in.
on 10 Feb 2015 05:33 AM

Unable to connect RDP

Arif Syamsudin

Gambar 1. Koneksi RDP menggunakan Reminna
Beberapa waktu lalu, koneksi ke peladen fax yang digunakan di kantor menggunakan koneksi jarak jauh mengalami masalah. Ngga' bisa dikontak. Entah kenapa, padahal jauh sebelumnya ngga' ada masalah.

Oia, kenapa dikendalikan jarak jauh? Karena peladen ini ada di ruangan lain di mana ngga' dimungkinkan buat pasang monitor, papan kunci, tetikus, dlsb. Kendali jarak jauh ini dipake buat memastikan ngga' ada permasalahan sama sistem, karena ini peladen fax. Fax termasuk metode komunikasi yang masih dipakek sama teman-teman di kantor. Karena ada beberapa kegiatan yang beritanya perlu dikirimkan lewat fax.

Nah, permasalahannya seperti yang dicantumkan sama judul. Unable to connect RDP. Beberapa diskusi pencerahan dengan kawan, menyatakan bahwa ada sesi RDP yang "nyangkut." Memang diakui, ada beberapa kali sesi yang nge-hang. Entah karena Reminna yang bermasalah atau hal lain. Beberapa kali itu pula saya melakukan force shutdown ke sesi kendali jarak jauh.

Solusi yang saya gunakan untuk mengatasi masalah ini adalah, dengan menghapus berkas known_hosts yang ada di dalam direktori ~/.freerdp. Di dalam berkas .freerdp ada satu direktori dan satu berkas. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah:

Gambar 2. Lokasi direktori .freerdp dan berkas di dalamnya.
Seperti yang dilihat, itu ada berkas known_hosts. Nah, silahkan hapus berkas itu, dan coba lakukan kembali kendali jarak jauh yang gagal via RDP tadi. Hasilnya, sudah bisa tersambung lagi dengan peladen fax via RDP :).

Gambar 3. Sudah terkoneksi kembali.

Bahan Bacaan:

  1. http://askubuntu.com/questions/157723/cannot-rdp-to-windows-7-with-remmina-on-12-04
on 10 Feb 2015 03:06 AM
The OpenVAS structure
Sumber: http://www.openvas.org/

Open Vulnerability Assessment System atau disingkat OpenVAS menawarkan alat bantu untuk memindai kerentanan dan manajemen solusi dari kerentanan tersebut. Sebelumnya saya sering menggunakan Nessus. Langkah installasi di Linux Mint 17.1 dibagi menjadi 8 bagian.

1. Menyiapkan "perkakas" untuk mengkompilasi OpenVAS
sudo apt-get install build-essential bison flex cmake pkg-config libglib2.0-0 libglib2.0-dev libgnutls26 libgnutls-dev libpcap0.8 libpcap0.8-dev libgpgme11 libgpgme11-dev doxygen libuuid1 uuid-dev sqlfairy xmltoman libsqlite3-0 libsqlite3-dev libxml2-dev libxslt1.1 libxslt1-dev xsltproc libmicrohttpd-dev libldap-2.4-2 libldap2-dev

2. Mengunduh OpenVAS dan mengektraksinya ke direktori OpenVAS
mkdir ~/OpenVAS
cd ~/OpenVAS

wget http://wald.intevation.org/frs/download.php/1638/openvas-libraries-7.0.1.tar.gz
wget http://wald.intevation.org/frs/download.php/1640/openvas-scanner-4.0.1.tar.gz
wget http://wald.intevation.org/frs/download.php/1637/openvas-manager-5.0.0.tar.gz
wget http://wald.intevation.org/frs/download.php/1639/greenbone-security-assistant-5.0.0.tar.gz
wget http://wald.intevation.org/frs/download.php/1633/openvas-cli-1.3.0.tar.gz

tar zxvf openvas-libraries-7.0.1.tar.gz
tar zxvf openvas-scanner-4.0.1.tar.gz
tar zxvf openvas-manager-5.0.0.tar.gz
tar zxvf greenbone-security-assistant-5.0.0.tar.gz
tar zxvf openvas-cli-1.3.0.tar.gz


3. Installasi 5 komponen tersebut pada direktorinya masing-masing menggunakan perintah teks
mkdir source
cd source
cmake ..
make
sudo make install
4. Konfigurasi OpenVAS
sudo openvas-mkcert
sudo ldconfig
sudo openvassd

5. Unduh basis data celah keamanan
sudo openvas-nvt-sync
sudo openvas-scapdata-sync
sudo openvas-certdata-sync
6. Membuat akun dan sertifikat
sudo openvasmd --create-user=admin --role=Admin
sudo openvas-mkcert-client -n -i
7. Menjalankan layanan OpenVAS
sudo openvasmd --rebuild --progress
sudo openvasmd
sudo gsad
8. Menggunakan OpenVAS, buka peramban web dengan alamat https://localhost/




on 10 Feb 2015 12:26 AM

05 Feb 2015

The USE flags corresponding to the instruction sets and other features specific to the x86 (amd64) architecture are being moved into a separate USE flag group called CPU_FLAGS_X86. In order not to lose CPU-specific optimizations, users will be required to update their make.conf (and package.use) file. For example, if the following USE flags were present: USE=”mmx mmxext sse sse2 sse3″ Those flags need to be copied into: CPU_FLAGS_X86=”mmx mmxext sse sse2 sse3″ Please note that the same CPU_FLAGS_X86 variable is used both on x86 and amd64 systems. When in doubt, you can consult the flag descriptions using one of the commonly available tools, e.g. `equery uses` from gentoolkit: $ equery uses media-video/ffmpeg Most of the flag names match /proc/cpuinfo names, with the notable exception of SSE3 which is called ‘pni’ in /proc/cpuinfo (please also do not confuse it with distinct SSSE3). To help users enable the correct USE flags, we are providing a Python script that generates the correct value using /proc/cpuinfo. It can be found in the app-portage/cpuinfo2cpuflags package: $ emerge -1v app-portage/cpuinfo2cpuflags $ cpuinfo2cpuflags-x86 In order to ensure safe migration and maintain compatibility with external repositories, it is recommended to preserve the old USE settings for a period of one year or until no package of interest is still using them.

PS: This is a verbatim copy of a reminder in ESELECT NEWS. I take it to this blog as a reminder for myself in the future.

on 05 Feb 2015 08:45 AM

03 Feb 2015

Fix permission /dev/kvm

Mahyuddin Susanto

Problem ini sangat umum ketika kita memasang qemu-kvm, contohnya ketika akan melakukan pembuatan mesin virtual dengan cara berikut:

/usr/bin/qemu-system-x86_64 -netdev user,id=user.0,hostfwd=tcp::3213-:22 -device virtio-net,netdev=user.0 -drive file=output-qemu/packer-qemu.qcow2,if=virtio,cache=writeback -boot once=d -name packer-qemu -machine type=pc,accel=kvm -cdrom packer_cache/ubuntu.iso -m 512M -vnc 0.0.0.0:47
Could not access KVM kernel module: Permission denied

Atau error seperti berikut

2015 /02/03 18:33:37 packer-builder-qemu: 2015/02/03 18:33:37 Qemu stderr: Could not access KVM kernel module: Permission denied
2015/02/03 18:33:37 packer-builder-qemu: 2015/02/03 18:33:37 Qemu stderr: failed to initialize KVM: Permission denied
2015/02/03 18:33:37 ui error: ==> qemu: Error launching VM: Qemu failed to start. Please run with logs to get more info.
2015/02/03 18:33:37 ui: ==> qemu: Deleting output directory...
==> qemu: Error launching VM: Qemu failed to start. Please run with logs to get more info.
2015/02/03 18:33:37 ui error: Build 'qemu' errored: Build was halted.
2015/02/03 18:33:37 Builds completed. Waiting on interrupt barrier...

Hal ini dikarenakan ACL pada berkas /dev/kvm yang belum memasukkan user kita, contohnya:

sudo getfacl /dev/kvm
getfacl: Removing leading '/' from absolute path names
# file: dev/kvm
# owner: root
# group: kvm
user::rw-
group::rw-
other::---

Seharusnya pada kolom user ada user kita :(. Untuk mengatasinya kita perlu melakukan modifikasi ACL pada berkas /dev/kvm dengan cara:

sudo setfacl -m user:$USER:rw- /dev/kvm

contoh jika user adalah udienz:

sudo setfacl -m user:udienz:rw- /dev/kvm
sudo getfacl /dev/kvm
getfacl: Removing leading '/' from absolute path names
# file: dev/kvm
# owner: root
# group: kvm
user::rw-
user:udienz:rw-
group::rw-
mask::rw-
other::---

Silakan dicoba

Referensi:

  1. https://bbs.archlinux.org/viewtopic.php?id=69454
  2. http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=1976606
  3. http://forums.debian.net/viewtopic.php?f=10&t=111711&sid=e550c9b1d0a8bec4ff430ec9f3858569&start=15
  4. http://stevedowe.me/2014/09/fix-permissions-error-with-kvm-virtual-machine-on-debian.html
on 03 Feb 2015 11:58 AM

Beberapa kali teman-teman saya yang sudah punya blog bilang, mereka sebenarnya pengen nulis rutin di blog. Tapi seringkali bingung apa yang mau ditulis. Terutama mereka yang menghindari menulis “ala diary”, alias tidak mau menceritakan kehidupan pribadinya di blog. Karena memang topik ini yang paling gampang dibahas di blog sih.

Nah kalau sudah buntu begitu, salah satu tipsnya adalah blogwalking. Ngunjungin blog-blog teman, atau “seleb online”. Mungkin ada aja satu dua tulisannya yang menarik. Bisa jadi anda tergerak untuk memberi komentar. Nah, daripada jadi komentar, mending jadi bahan tulisan anda sendiri saja. Hehe.

*mungkin itu kenapa sekarang komentar di blog sedikit kali ya? Haha.

 

on 03 Feb 2015 01:47 AM

28 Jan 2015


Saya hanya mencoba menjalankan via live CD tidak berminat untuk memasang Ubuntu sebagai pendamping OS X di MacBook Pro 11.2 ini karena seluruh kebutuhan pekerjaan sudah ada di OS X. Jika keinginan memasang Ubuntu di MacBook Pro 11.2, silahkan ikuti petunjuk tautan dibawah.

https://help.ubuntu.com/community/MacBookPro11-1/Saucy

Beberapa perangkat keras di MacBook Pro 11.2 setelah pemasangan ubuntu selesai, banyak yang belum support tapi dapat disiasati dengan beberapa konfigurasi dibawah, selain beberapa isu perangkat keras dibawah sudah bisa berjalan lancar di MacBook Pro 11.2.
  • Pemasangan Ubuntu melalui Live CD USB flash drive ( Unetbootin atau Startup Disk Creator ) 
  • Boot EFI : konfigurasi lebih lanjut, silahkan mengikuti di tautan ini 
  • AirPort Wireless BCM4360 - perlu pemasangan driver dan konfigurasi ikuti petunjuk pemasangan tautan ini, saya sarankan menggunakan koneksi modem GSM, karena tidak ada lagi LAN Port kecuali anda punya converter LAN Port ke port Thunderbolt atau port USB, yang terpenting adalah cari cara untuk terkoneksi dengan repository Ubuntu.
  • Speaker : Sudah berjalan lancar jaya, tanpa konfigurasi lagi.
  • Touchpad Multitouch : konfigurasi lebih lanjut, silahkan mengikuti  tautan ini 
  • Retina Display : konfigurasi lebih lanjut, silahkan mengikuti tautan ini.
  • Keyboard : lancar jaya perlu sedikit konfigurasi untuk mengaktifkan FN mode ikuti tautan ini.
  • Port HDMI : sudah dapat digunakan baik menampilkan gambar dan mendengarkan sound dari port HDMI.
  • iSight Camera : sudah bisa berjalan sejak ubuntu 14.10, untuk ubuntu 13.10 tidak berjalan.

Selamat mencoba hacking MacBook Pro Retina 15 :)

on 28 Jan 2015 05:29 PM

27 Jan 2015

Cerita dari Pengembang: Our Story In 1994, two programmers started working on a web browser. Our idea was to make a really fast browser, capable of running on limited hardware, keeping in mind that users are individuals with their own requirements and wishes. Opera was born. Our little piece of software gained traction, our group […]
on 27 Jan 2015 10:16 PM

26 Jan 2015

Banyak yang mengatakan usaha warnet saat ini sudah mulai redup. Dari pengalaman saya menjadi pengusaha warnet sejak tahun 2003-an, dibandingkan dengan masa lalu saat internet masih merupakan barang “mewah”, memang usaha warnet sendiri sudah turun pamor, dengan murahnya koneksi pribadi dan murahnya laptop.

Akan tetapi bukan berarti tidak ada peluang untuk mengembangkan warnet/gamecenter dengan menambah fasilitas dan usaha-usaha sambilan yang lain. Sebagai pengusaha, kita dituntut untuk jeli dalam mencari peluang untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi saat ini.

Berikut ini saya tuliskan fasilitas penunjang warnet dan usaha sambilan yang mungkin bisa kita kembangkan:

Printer dan Scanner: ini mungkin fasilitas standar, tetapi karena printer merupakan barang yang gampang rusak/trouble, kadang kita tidak cepat tanggap. Saran saya, jangan biarkan printer/scanner dalam keadaan trouble, kalau perlu sediakan printer cadangan bila printer utama trouble, sebab mungkin banyak orang yg punya laptop dan komputer pribadi atau bahkan gadget, tapi kebutuhan akan printer yang jarang dan biasanya mendesak membuat banyak orang mencari tempat ngeprint di luar daripada beli printer sendiri. Demikian juga scanner.

Jualan pulsa : ini juga fasilitas sederhana tetapi cukup membantu pemasukan, sebab, banyak pelanggan warnet yang kadang perlu isi pulsa tetapi malas untuk keluar. Cari agen pulsa all in one, yang memiliki fasilitas transfer dana di ATM dan bisa di akses melalui messenger, misalkan yahoo messenger dan lain sebagainya.

- Jualan Voucher Game : Ada banyak voucher game yang sekarang beredar, untuk voucher yang sering diminati oleh pemain, lebih baik beli langsung ke agennya, misalkan voucher gemschool, lyto dan megaxus, untuk voucher yang lainnya juga bisa dijadikan satu dengan agen voucher all in one misalkan gudangvoucher atau yang lainnya.

Jasa Pengetikan dan Terjemahan: Ini juga merupakan fasilitas tambahan yang mungkin juga standar, tetapi sering juga menambah pemasukan, biasanya merupakan tambahan bagi operator juga. Tips untuk jasa terjemahan ini, yaitu gunakan google translate :) , karena saat ini mutu terjemahan dari google translate semakin baik, cuman memang masih perlu perbaikan sedikit-sedikit.

- Jualan Flashdisk, Memory Card, Kertas, CD, Keyboard, Mouse dan aksesoris komputer lainnya.

Jasa Desain Grafis : Untuk keperluan-keperluan sederhana, misalkan buat undangan, banner sederhana dan lain sebagainya.

Mungkin masih banyak lagi usaha yang bisa dilakukan sebagai tambahan usaha warnet, tetapi saya pribadi belum pernah mencobanya misalkan jual tiket pesawat/hotel/kereta dll atau jualan voucher-voucher yang lainnya. Karena kelebihan usaha warnet adalah bisa numpang koneksi gratis.

Kunci sukses dalam usaha adalah mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini serta perhitungan yang matang dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Semoga tips diatas bisa menjadi pandangan dalam mengembangkan usaha warnet anda.


on 26 Jan 2015 10:43 PM

22 Jan 2015

Dengan munculnya Android di Smartphone, kita semakin dimanjakan dengan berbagai kemudahan utamanya dalam komunikasi. Kemudahan saat bekerja memakai laptop/pc dan bisa berkomunikasi memakai aplikasi yang sedang naik daun saat ini tetap bisa kita lakukan… salah satunya dengan WhatsApp Web Based, sehingga kita tidak perlu buka smartphone, apalagi jika smartphone sedang di charge… ;-) Visual aja […]
on 22 Jan 2015 06:29 AM

21 Jan 2015

banyak orang yang  saat memulai usaha warnet dan gamecenter bertanya-tanya,  apakah warnet dan game tersebut dipisah atau digabung. Ada untung dan rugi kalau game dan warnet digabung dan dipisah. Berikut ini saya rangkum pendapat saya dari pengalaman pribadi.

Latar Belakang Pelanggan

Latar belakang pelanggan warnet dan game biasanya berbeda. Pelanggan warnet biasanya punya tujuan yang jelas misalkan ngeprint, nulis email fb, chating dll dan kalau tujuannya tersebut sudah selesai biasanya tidak berlama-lama. Kalau pelangan game, biasanya tujuannya adalah bersenang-senang dan sosialisasi.

Segi Teknis Pemakaian Warnet dan Game

Pemakaian Bandwidth untuk warnet tidak terlalu butuh kestabilan, dan  Spesifikasi Komputer warnet juga tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan game.

Untuk gamecenter, diperlukan bandwidth yang stabil (walaupun tidak cepat) dan juga dibutuhkan spesifikasi komputer yang relatif tinggi.

Dan saya sampai saat ini masih belum menemukan solusi untuk tidak memakai windows kalau bikin gamecenter

Investasi

Tapi kerugian di pisah adalah investasi yang mahal, karena perlu disediakan tempat yang beda antara pengegame dan pengguna warnet.

Kesimpulan sementara

Saya pribadi memilih untuk memisah antara gamecenter dan warnet dengan alasan diatas.


on 21 Jan 2015 09:47 PM

Ok, kalau yang ditulis adalah tentang warnet dan ubuntu kayaknya akan susah, tetapi saya akan mencoba belajar menulis pemikiran saya tentang segala ketertarikan saya, misalkan: entrepreneurship, fisika, programming, lingkungan dan lain sebagainya.. intinya pokoknya menulis!

Katanya, jika kita ingin ahli dalam segala sesuatu, lakukan sebanyak 10 ribu kali!, apapun itu!.. yap! saya ingin ahli menulis :D,

Bagi yang telah subscribe dan menunggu tulisan tentang warnet, gamecenter, ubuntu dan sesuatu yang berhubungan dengan itu dan merasa tidak nyaman dengan tulisan yang lain, mohon maaf, mungkin bisa unsubscibe..

dan.. ini saya anggap tulisan pertama saya!, ok, masih kurang 9.999 kali menulis! :D


on 21 Jan 2015 09:42 PM

If the linux box behind the proxy. You must set terminal environment to use proxy. For curl command, you can ad -x arguments, installation of composer behind proxy is like this :

curl -s https://getcomposer.org/installer -x 192.168.1.5:8888 | php -d detect_unicode=off

and then for downloading laravel package, with php cli, first set env var using commang :

export https_proxy=”http://192.168.1.5:8888&#8243;

and then laravel composer create project command

php composer.phar create-project laravel/laravel

 

P.S: 192.168.1.5:8888 is proxy gateway


on 21 Jan 2015 10:31 AM

19 Jan 2015

Berkas presentasi Lokakarya “ZFS On Linux” bersama GNU/Linux Bogor (GLiB) tanggal 03 Januari 2015.

 

on 19 Jan 2015 08:34 AM

17 Jan 2015

Error :

configure: error: *** uuid support not found (this typically means the uuid development package is missing)

apt-get install uuid-dev libjannson-dev

Error :
PHP Fatal error: Cannot make static method DB::connect() non static in class freepbx_db in /var/www/freepbx/admin/libraries/freepbx_DB.php on line 57

pear uninstall db
pear install db-1.7.14

Error :
Module cxpanel successfully downloaded
Failed to install due to the following missing required module(s):<br /><br />manager<br /><br />Unable to install module cxpanel:

/var/lib/asterisk/bin/freepbx_engine: line 748: unexpected EOF while looking for matching `”‘
/var/lib/asterisk/bin/freepbx_engine: line 755: syntax error: unexpected end of file

amportal a ma download manager
amportal a ma install manager

Error :

freepbx blank white

amportal a dbug
amportal a ma delete cxpanel
cp /etc/freepbx.conf /etc/asterisk
chown asterisk:asterisk /etc/asterisk/freepbx.conf

 


on 17 Jan 2015 12:13 AM

16 Jan 2015

OpenSips Error Solving on Debian

Rolly Maulana Awangga

Error :

ERROR: No PID file found (/var/run/opensips.pid)! OpenSIPS probably not running

Solution :

chmod a+r /etc/opensips/opensips.cfg

or error in opensips.cfg file

in debian you can check error by

tail -f /var/log/syslog


on 16 Jan 2015 01:11 PM

13 Jan 2015

Empat bulan tanpa nge-blog… bukan tanpa pengalaman yang pastinya, tetapi karena banyaknya kegiatan dan pengalaman baru sehingga tidak menyempatkan diri lagi untuk corat-coret di SAH. BTB … “Berkurang Tetapi Bertambah” bingung dengan judulnya tetapi begitulah kenyataan yang dialami. Berawal dari kegiatan baru “ACP TKJ SMKN 1 KARAWANG” sebuah kelas khusus yang diselenggarakan satuan pendidikan bekerja […]
on 13 Jan 2015 05:22 PM

08 Jan 2015

just install apache2-mpm-itk

apt-get install apache2-mpm-itk

and edit file in virtual host add tag

<IfModule mpm_itk_module>
AssignUserId asterisk asterisk
</IfModule>

inside <virtualhost> tag in the end line


on 08 Jan 2015 10:06 AM

22 Dec 2014

Anda pernah dengar NMON? atau malah sudah sangat familiar dengan NMON baik di AIX maupun di Linux,  secara singkatnya NMON adalah alat bantu untuk melakukan monitoring dan analisa terhadap performa server, didesain untuk IBM AIX dan Linux.

Kutipan dari web IBM:

The nmon tool is designed for AIX and Linux performance specialists to use for monitoring and analyzing performance data, including:

CPU utilization    
Memory use    
Kernel statistics and run queue information    
Disks I/O rates, transfers, and read/write ratios    
Free space on file systems    
Disk adapters    
Network I/O rates, transfers, and read/write ratios    
Paging space and paging rates    
CPU and AIX specification    
Top processors    
IBM HTTP Web cache    
User-defined disk groups    
Machine details and resources    
Asynchronous I/O -- AIX only    
Workload Manager (WLM) -- AIX only    
IBM TotalStorage® Enterprise Storage Server® (ESS) disks -- AIX only    
Network File System (NFS)    
Dynamic LPAR (DLPAR) changes -- only pSeries p5 and OpenPower for either AIX or Linux    

Also included is a new tool to generate graphs from the nmon output and create .gif files that can be displayed on a Web site.

Menarik bukan? Bagaimana cara menggunakannya di Oracle Solaris?

Jika Anda pengguna Oracle Solaris, anda tetap bisa menggunakan tools seperti NMON ini, yaitu menggunakan SARMON, dan inilah cara instalasinya:

1. Unduh berkas .zip instalasinya
2. Unzip berkas installernya

# unzip sarmon_v1.10_64bit.bin_sparc.zip

3. Lakukan backup file aslinya.

# cp /usr/bin/sar /usr/bin/sar.orig
# cp /usr/bin/timex /usr/bin/timex.orig
# cp /usr/lib/sa/sadc /usr/lib/sa/sadc.orig

4. Pindahkan SARMON ke /usr/local

# mv sarmon_bin_sparc /usr/local/sarmon

5. Salin file SARMON

# cp /usr/local/sarmon/sar /usr/bin/sar
# cp /usr/local/sarmon/timex /usr/bin/timex
# cp /usr/local/sarmon/sadc /usr/lib/sa/sadc

Tambahkan konfigurasi berikut kedalam berkas crontab

# crontab -e
0 0 * * * /usr/local/sarmon/sa1 300 288 &

SARMON akan melakukan “collect” setiap hari jam 00:00, dan hasil dari SARMON ini akan disimpan di folder “/var/adm/sa/”

root@server01 # ls -al | grep nmon
-rw-r--r--   1 root     root       18160 Dec 16 16:36 sa16.server01_141216_1636.nmon
-rw-r--r--   1 root     root      791098 Dec 17 23:55 sa17.server01_141217_0000.nmon
-rw-r--r--   1 root     root      791058 Dec 18 23:55 sa18.server01_141218_0000.nmon
-rw-r--r--   1 root     root      787889 Dec 19 23:55 sa19.server01_141219_0000.nmon
-rw-r--r--   1 root     root      788895 Dec 20 23:55 sa20.server01_141220_0000.nmon
-rw-r--r--   1 root     root      791048 Dec 21 23:55 sa21.server01_141221_0000.nmon
-rw-r--r--   1 root     root      524666 Dec 22 15:40 sa22.server01_141222_0000.nmon

Hasil .nmon ini masih belum bisa dibaca secara manusiawi, tapi tenang saja, ada tools yang berfungsi untuk melakukan konversi data .nmon ini menjadi report yang lebih mudah dibaca oleh manusia, namanya “NMON Analyzer” dan bisa diunduh pada tautan berikut.

Berikut contoh hasil report NMON Analyzer.

sys_summ

disk

net

on 22 Dec 2014 09:22 AM

20 Dec 2014

in Turnkey Liux you cant edit general php.ini in /etc/php5/apache2/php.ini, but you need to create a new file inside conf.d folder with priority setting.

Turnkey Linux Remote


on 20 Dec 2014 05:39 AM

15 Dec 2014

Pagi ini jalan jalan ke Pasar Google Chrome  saya menemukan hal menarik yaitu tentang aplikasi linux desktop bisa dijalankan melalui layanan Awan. Jadi semakin kedepan tidak ada alasan lagi untuk menerima Sistem operasi berbasis awan. Aplikasi yang dapat di jalankan kebanyakan adalah aplikasi FOSS, seperti Inkscape, Gimp, Open Office dll, semua bisa dijalankan melalui browser. Aplikasi awan ini saya lihat, tidak jauh berbeda dengan aplikasi yang dijalankan melalui VNC Desktop, cuma bedanya VNC desktop sudah disediakan oleh rollApp. Bagi sebagian orang aplikasi awan seperti ini sangat membantu apa lagi bagi orang yang malas membawa perangkat desktop ditenteng-tenteng kemana-mana, terlebih lagi bagi pengguna Chromebook aplikasi seperti ini sangat membantu sekali.
Saya coba untuk menjalankan Inkscape dan Gimp melalui browser Chrome, hasilnya lumayan seperti aplikasi Gimp dan Inkscape native desktop. Tapi saya sarankan anda mempunyai kecepatan internet yang mumpuni untuk membuka aplikasi cloud ini, bagi yang mempunyai koneksi standar, jangan harap menggunakan aplikasi ini secara maksimal. Karena lumayan berat rendering aplikasi dari server ke browser kita. Jadi sekarang tidak cuma keluarga Photoshop yang dapat berjalan di awan, Kini aplikasi linux pun, juga dapat dijalankan di awan.

Bagi ingin mencoba silahkan install dari chrome web store atau dari browser kesayangan anda.

Inkscape Cloud
https://chrome.google.com/webstore/detail/inkscape-on-rollapp/icjinnaagdniegmfejingjjhljhmkopj

Gimp Cloud
https://chrome.google.com/webstore/detail/gimp-on-rollapp/eodhmnkhmnkmimhckfpkgmbmcgjkaddo

Aplikasi Cloud Lain - https://www.rollapp.com/

Untuk membuka dan menyimpan berkas yang akan digunakan pada aplikasi Awan ini, kita harus terkoneksi dengan layanan penyimpanan berkas awan seperti Dropbox, Google Drive, Box, OneDrive dll.

Apakah anda siap mencoba Aplikasi FOSS di Awan ?

on 15 Dec 2014 12:39 AM

12 Dec 2014

suatu sore sayup2 terdengar perkataan....

ada kondisi seseorang dimana

rejekinya dibuat bertambah banyak
kedudukannya dijadikan bertambah tinggi
ilmunya diberikan bertambah banyak

namun disaat bersamaan

ibadahnya menjadi berkurang
ketaatannya menjadi berkurang
amalannya menjadi berkurang

yang dulunya adzan langsung ke masjid, kemudian berangsur-angsur kemasjidnya setelah adzan, kemudian menjadi kemasjidnya di akhir2 bareng komat, kemudian mulai telat berjamaah kemudian mulai bolong-bolong sholat berjamaah di masjidnya

yang dulunya mbaca quran sehari 1 juz, kmudian berkurang stengah juz, kemudian berkurang 1 halaman, kemudian berkurang menjadi 1 ayat dan kemudian bolong-bolong membaca quran tiap harinya

yang dulunya rajin sholat malam kemudian berakhir bolong-bolong juga

sementara rizkinya dibuat bertambah semakin bertambah, bertambah terus dan terus ditambah....
on 12 Dec 2014 11:46 PM

26 Nov 2014

Tascam IM2Sepertinya bakal banyak yang sependapat, jika saya katakan hal yang sangat penting dalam proses belajar adalah evaluasi untuk mengetahui serta mengukur perkembangan, di sekolah ujian adalah bentuk evaluasi yang sering kita jumpai.

Dalam konteks evaluasi anak – anak Rocket belajar musik, saya selalu merekam audio performance band khususnya dalam sesi latihan di studio. Aturan yang berlaku di setiap rehearsal studio, adalah adanya biaya lebih jika penyewa hendak memakai peralatan recording. Sementara kami belum membutuhkan kualitas rekaman seperti itu..

Untuk itu saya mengandalkan perangkat Tascam IM2. Perangkat innovative ini, adalah Stereo Condenser Microphone yang bisa dikoneksikan pada smartphone iPhone 4 atau tablet iPad 3, sehingga menghasilkan kualitas tangkapan audio yang sangat bagus. Bahkan karena tingginya kepekaannya, jika angin berhembus akan menimbulkan suara yang mengganggu hasil rekaman. Oleh sebab itu perangkat ini hanya saya pakai di dalam studio rehearsal. Untuk penggunaan diluar ruangan saya sarankan tambahan Wind Muffler yang bisa menghilangkan gangguan suara dari angin yang berhembus.

Tascam IM2 with iPhone

Kualitas hasil rekaman perangkat ini, bisa didengar pada video berikut:

Dengan perangkat ini proses merekam performance anak – anak Rocket dalam rehearsal menjadi mudah dan menghasilkan kualitas suara yang cukup baik..

on 26 Nov 2014 03:01 PM

Beberapa minggu ini saya aktif kembali menggunakan reStucturedText yang kemudian saya export ke pdf dengan rst2pdf. Hal ini dikarenakan kemudahan dalam penggunaanya dan dapat di export ke beberapa format seperti plain teks, doc, docx, latex dan pdf.

Namun ada beberapa catatan yang mengganjal yaitu bagaimana caranya saya ingin menyembunyikan elemen? misalnya saya ingin hanya menampilkan bagian tentang daftar peralatan di halaman HTML namun tidak di tampilkan di PDF?

Menurut pengembangnya kita bisa menyembunyikan elemen tersebut dengan opsi --strip-elements-with-class. Contoh

nge-blog
-----------

berisikan tentang pengertian blog, etc

.. class:: tampil

Teks ini akan tampil, di bawahnya seharusnya ada lagi.

.. class:: hilang

Teks ini hilang

.. class:: tampil

Jika hanya ada dua baris berarti ada yang **hilang**

Untuk menyembunyikan elemen ‘hilang’, pada saat menkompile dengan rst2pdf bisa menggunakan opti --strip-elements-with-class=hilang. Contoh:

rst2pdf --strip-elements-with-class=hilang blog.rst.

Hasil keluarannya akan menghasilkan berkas blog.pdf yang hanya akan berisi 4 baris saja.

on 26 Nov 2014 11:46 AM

10 Nov 2014

Post Event Marketing

Wisu Suntoyo

Dalam setiap event, hal yang selalu dilakukan peserta adalah dokumentasi, tidak jarang dokumentasi ini kemudian muncul di berbagai media sosial.

Hari sabtu lalu rock band anak, Rocket, turut dalam acara yang diadakan oleh Majalah XYKids.. Tidak lama kemudian saya posting video dan photo – photo penampilan 4 orang anak yang tergabung dalam band itu…

Keesokan harinya giliran adiknya ikut dalam acara Lomba Grand Prix Junior Band (GPJB XIII), merupakan lomba rutin tahunan drumband tingkat nasional. Sebelumnya pada tahun 2009 anak saya yang nomor satu juga menjadi peserta lomba drumband yang sama. Berikut video yang saya buat dari acara tersebut…

Pada saat penulisan blog entry ini, video yang saya unggah tersebut sudah mendapatkan 200 views dan 13 likes.. padahal belum 12 jam saya publish di YouTube… berbeda dengan 5 tahun lalu, akses streaming YouTube saat ini sudah menjadi hal yang sangat mudah, itupun video – video yang saat anak saya nomor satu menjadi peserta ditonton masing – masing 1.000 dan 3.750 kali.. Gambaran lain, video drumband yang di unggah oleh TK Alazhar 1 bulan Maret 2013, sudah menuai lebih dari 13.000 views… sebuah event acara untuk mendatangkan orang sebanyak itu pasti sebuah acara yang sangat besar sekali…

Dari uraian diatas, besarnya potensi marketing dari adanya peserta yang merekam acara lomba yang kemudian mereka share ke social media sekilas sangat menjanjikan..

Selanjutnya ada beberapa pemikiran saya yang bisa diterapkan dalam sebuah event..

1. Baiknya ada keleluasaan peserta mengabadikan keikut-sertaan dalam acara, misalkan dengan menyediakan tempat khusus untuk mengambil foto atau video..

2. Brand yang hendak anda tonjolkan sebaiknya tampil dengan jelas di obyek yang akan di abadikan.. Seperti acara yang diadakan XYKids yang anak saya ikuti, identitas brand majalah tersebut sangat terlihat dari hiasan panggungnya.. Contoh lain, pada lomba olah raga, branding kaos peserta juga bisa digunakan untuk mencapai tujuan ini..

3. Kegiatan dokumentasi dan sharing bisa dilombakan agar peserta lebih bersemangat untuk buat dan sharing hasil mereka, misal: Lomba foto acara/peserta lomba dimana pesertanya wajib share hasil mereka ke Facebook/Google Plus page penyelenggara.. Atau lomba video yang hasil unggah YouTube-nya di tweet ke penyelenggara akun Twitter penyelenggara…

Yaps, itu sedikit pemikiran… sepenuhnya adalah pandangan dari seorang ayah, dengan pekerjaan non marketing, yang sangat senang mendokumentasikan kegiatan yang diikuti anaknya…

Saya jadi ingin tahu pandangan pembaca yang memang profesional dibidang marketing… What do you think?

on 10 Nov 2014 09:17 AM

Migrasi ke cloudflare

Mahyuddin Susanto

Cloudflare Logo

Clodflare Logo

Akhirnya setelah punya waktu cukup, domain mahyudd.in dan udienz.web.id saya migrasikan ke cloudflare. Salah satu dari beberapa motivasi migrasi ke cloudflare adalah setelah membaca blod dari Om Fajran tentang SSL, Load server, dan bandwidth.

Proses migrasinya sangat mudah sekali, tinggal kita buat domain yang akan di migrasikan, upload zone dns dan atur mana saja yang akan di arahkan ke cloudflare. Selesai! Mudah dan simple.

Kekurangan:

Entah ini bug atau pengaturan di laptop saya yang error, ketika dukungan IPv6 saya aktifkan di blog ini, maka dari laptop saya akan mendapatkan SSL asli dari blog ini bukan dari cloudflare.

Overall:

Secara umum, saya sangat puas dengan penforma setelah migrasi ke cloudflare, hanya untuk catatan server cloudflare ada di Singapura jadi akan memakan bandwidth internasional.

on 10 Nov 2014 09:12 AM